Al-Qur’an menyingkap sebuah kenyataan yang sangat halus namun menggetarkan hati: pendusta agama tidak selalu tampil sebagai orang yang terang-terangan menolak Allah atau ibadah. Bahkan, sebagian besar dari mereka merasa dirinya baik-baik saja, merasa beriman, dan menganggap apa yang dilakukannya masih dalam koridor agama.
Allah berfirman:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?”
(QS. Al-Mā‘ūn: 1)
Ayat ini tidak langsung menyebutkan “orang kafir” atau “orang yang mengingkari Allah”. Sebaliknya, Allah melanjutkan dengan ciri-ciri perilaku sosial dan moral:
“Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Mā‘ūn: 2–3)
Di sini jelas bahwa pendustaan agama bukan hanya soal lisan dan keyakinan, tetapi soal sikap hati dan perbuatan nyata. Seseorang bisa rajin ibadah, namun jika hatinya keras, abai terhadap keadilan, dan tak peduli pada penderitaan sesama, maka tanpa sadar ia telah mendustakan agama.
Ibadah yang Kosong Makna
Allah melanjutkan peringatan-Nya:
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang berguna.”
(QS. Al-Mā‘ūn: 4–7)
Ini menunjukkan bahwa shalat saja tidak otomatis menyelamatkan seseorang dari predikat pendusta agama. Ketika shalat tidak melahirkan kejujuran, empati, dan akhlak, maka ibadah itu menjadi rutinitas kosong—dan pelakunya sering tidak menyadari kekosongan tersebut.
Merasa Benar, Padahal Menyimpang
Fenomena ini ditegaskan dalam ayat lain:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi,’ mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’”
(QS. Al-Baqarah: 11)
Inilah bentuk pendustaan agama yang paling berbahaya:
➡️ merasa benar
➡️ merasa paling menjaga agama
➡️ namun perilakunya merusak nilai agama itu sendiri
Mereka tidak merasa berdusta, karena hati telah tertutup oleh pembenaran diri.
Timbangan yang Curang, Iman yang Palsu
Allah juga mengecam pendustaan yang tampak “sepele” dalam kehidupan sehari-hari:
“Celakalah orang-orang yang curang, (yaitu) orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, tetapi apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”
(QS. Al-Muṭaffifīn: 1–3)
Ayat ini menegaskan bahwa ketidakjujuran dalam muamalah adalah bentuk pendustaan iman, meski pelakunya tetap mengaku beragama dan bahkan taat beribadah.
Peringatan Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa tanda pendustaan iman sering muncul dalam akhlak, bukan pengakuan lisan:
“Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa seseorang bisa merasa beriman, namun perilakunya justru mendustakan nilai-nilai agama yang ia akui.
Penutup: Cermin untuk Diri Sendiri
Pendusta agama bukan selalu mereka yang jauh dari masjid,
tetapi bisa jadi mereka yang dekat dengan simbol agama namun jauh dari ruhnya.
Dan yang paling menakutkan adalah:
mereka tidak menyadari bahwa dirinya telah mendustakan agama,
karena yang diuji bukan hanya shalat dan ucapan,
melainkan kejujuran, kepedulian, keadilan, dan kasih sayang.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang bukan hanya mengaku beragama,
tetapi hidup dengan nilai agama—dalam hati, lisan, dan perbuatan. 🤲
Tidak ada komentar:
Posting Komentar